Cara Membuat Bambu Tahan Rayap dan Kuat

Ada berbagai macam cara membuat bambu tahan rayap dan kuat. Bambu sendiri umumnya digunakan dikenal dengan ragam manfaatnya untuk kehidupan manusia. Sejak dulu masyarakat acapkali menggunakannya sebagai struktur bangunan. Seiring waktu pemanfaatannya kian meluas. Misalnya sebagai bahan dinding hingga lantai rumah.

Kini Anda juga bisa mendapatinya di banyak furnitur. Hal tersebut membuktikan bahwa peran batang bambu tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Jika dilihat batangnya mempunyai karakteristik unik. Tekturnya terlihat khas sehingga membuat bentuknya semakin menarik. Berkat keunikannya tersebut tidak jarang orang memilihnya sebagai material ornamen.

Batang beruasnya mempunyai sisi artistik tinggi. Di dunia jenis pepohonan tersebut mencapai angka 1.250 spesies. Dari angka ini 140 spesies batang bambu tumbuh di Indonesia. Oleh sebab itu Anda tidak akan sulit mendapatinya. Lebih-lebih pada industri material bangunan. Kendati demikian, batangnya rentan terkena serangan rayap.

Untuk mencegahnya dari serangan rayap yuk ikuti langkah di bawah ini.

Cara Pengawetan Bambu dengan Teknik Kimia

Salah satu cara yang bisa digunakan agar tumbuhan jenis rumput-rumputan ini terhindar dari serangan rayap dengan mengawetkannya. Selain itu langkah ini bertujuan meningkatkan umur pakai. Langkah yang benar membantu Anda mendapatkan nilai ekonomisnya. Menariknya hampir semua jenis spesiesnya dapat diawetkan dengan metode sederhana.

Langkah awal mengawetkannya dengan memperhatikan sisi pengeringannya. Maksudnya adalah penggunaan batang kayu yang kering dapat menghasilkan tingkat keawetan tinggi. Salah satu karakteristiknya dapat dilihat dari kadar airnya. Sementara bambu dengan kadar air tinggi tentunya mempunyai tingkat keawetan rendah. Metodenya terdiri dari kimia dan non-kimia.

 Keberhasilan menggunakan metode dengan bahan kimia tergantung dari larutan yang digunakan. Dengan kata lain Anda perlu memperhatikan ketepatan konsentrasi larutan pengawetnya. Beberapa metode kimia yang populer diantaranya butt treatment, tangki terbuka, boucherie serta fumigasi. Selain itu tingkat keberhasilan metode kimia juga dipengaruhi faktor tertentu

Sebelum mengawetkan secara kimia cobalah memperhatikan hal berikut ini:

  • Kondisi fisik batang menjelang pengawetan
  • Usia bambu
  • Musim saat melakukan metode pengawetan
  • Bahan yang digunakan
  • Ukuran dan posisi bambu

Hal-hal di atas setidaknya perlu diperhatikan jika memilih menggunakan metode kimia. Bahan yang digunakan tentu saja Copper Chrome-Arsenic atau CCA. Namun bahan tersebut biasanya cenderung dijual dengan harga relatif tinggi. Oleh sebab itu Anda bisa memilih alternatif pengawetan non kimia atau tradisional.

Baca juga: Rekomendasi 5 Obat Anti Rayap

Cara Mengawetkan Bambu dengan Teknik Non Kimia

Langkah pengawetan secara tradisional dilakukan dengan beberapa tahapan. Seperti curing, tahap pengasapan, pelaburan, proses perendaman dan perebusan. Berikut langkah-langkah yang bisa Anda ikuti:

  1. Curing dilakukan dengan memotong bagian bawah dengan menyisakan daun dan cabang. Rumpun bambu kemudian diletakkan di ruang khusus untuk proses asimilasi.
  2. Pengasapan merupakan proses penghitaman batang dengan meletakkannya di tungku perapian. Waktu  pengasapan sekitar 20 menit.
  3. Proses pelaburan dilakukan dengan melaburi batang menggunakan kapur tohor.
  4. Perendaman dapat dilakukan dengan merendam batang ke dalam air selama 1 bulan.
  5. Perebusan dilakukan pada suhu antara 55 hingga 60 derajat Celcius. Waktu terbaik merebus sekitar 1 jam.

Ada banyak manfaat yang dapat Anda rasakan saat menggunakan langkah-langkah tersebut. Seperti pada saat berlangsungnya proses curing. Cara tersebut membuat kandungan pati pada ruas bambu menjadi berkurang. Alhasil ketahanan bambu terhadap serangan hewan kumbang bubuk semakin tinggi. Namun, langkah tersebut harus dimaksimalkan dengan langkah-langkah selanjutnya.

Sementara itu perendaman batang menjadi metode yang paling sering dilakukan oleh masyarakat. Cara tradisional ini digunakan untuk menurunkan kandungan pati di dalam batang bambu. Salah satu spesies yang memiliki kandungan pati cukup tinggi yaitu bambu ampel. Namun ada jenis apus dengan kandungan pati rendah.

Jika Anda memilih metode pengasapan perlu memperhatikan suhunya. Proses pemanasan yang tepat bisa menghasilkan penguraian senyawa pati di dalam jaringan parenkim. Berapa suhu terbaik untuk proses pengasapan? Anda dapat meniru cara pengawetan bambu orang Jepang dengan menggunakan suhu 120 derajat hingga 150 derajat Celcius. Semoga informasi ini bermanfaat ya teman-teman dan selamat mempraktekkan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *