Musim penghujan mulai tiba, Anda perlu mengenal 3 jenis serangga perusak kayu selain rayap. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi segala bentuk kerugian yang diakibatkan serangga-serangga tersebut. 

Terlebih serangga tidak memandang perabot kayu apa yang sedang dimakan. Kira-kira serangga apa saja selain rayap yang bisa merusak kayu? Simak artikel berikut sampai selesai.

Mengenal 3 Jenis Serangga Perusak Kayu selain Rayap

Rayap merupakan salah satu serangga perusak kayu yang telah dikenal secara umum oleh masyarakat. Tubuh rayap yang kecil dan hidup berkoloni mampu membuatnya menyelinap dan mudah memperoleh mangsa kayu yang disukainya. Meskipun demikian, beberapa serangga berikut juga tidak kalah kuat dengan rayap, lho.

1. Kumbang Pengebor

Salah satu serangga yang tidak kalah kuat dari rayap yang pertama adalah kumbang pengebor. Kumbang ini memiliki model tubuh yang kuat disertai dengan moncong yang lebih kuat. Moncong tersebut biasa digunakan oleh kumbang pengebor ini untuk mengebor kayu. Bahkan moncong ini sangat kuat karena mampu menembus struktur kayu yang sangat tebal.

Kumbang bubuk kayu atau teter

Adanya moncong yang digunakan untuk merusak kayu dengan cara mengebor pada kumbang jenis ini, akhirnya kumbang ini dinamakan sebagai kumbang pengebor. Ciri-ciri tubuh pada kumbang pengebor adalah memiliki ukuran tubuh sekitar 2-8 mm. Warn tubuhnya coklat kemerahan sampai coklat kehitaman.

Salah satu keunikan dari kumbang pengebor saat memakan kayu sangat berbeda dengan rayap. Kumbang pengebor ini memang hidup bersama-sama, akan tetapi hanya bersama anak-anaknya. Jadi, kumbang pengebor akan mengebor kayu yang menjadi sasaran makanannya kemudian meletakkan telur-telurnya pada lubang kayu hasil bor tersebut.

Setelah anak-anaknya diperkirakan aman berada dalam lubang kayu hasil bor moncongnya tersebut. Setelah itu, kumbang pengebor akan menunggunya selama 16 hari untuk menetas. Apabila sudah menetas, larva kumbang kayu akan memakan saripati kayu selama masa hidupnya yang diperkirakan antara 6-12 bulan. Waktu yang cukup lama untuk membuat kayu benar-benar rusak.

2.  Lebah Kayu

Mengenal 3 serangga perusak kayu yang kedua selain rayap adalah lebah kayu. Lebah kayu memiliki bentuk yang besar dan berbulu. Bentuk tubuhnya hampir sama seperti lebah pada umumnya, hanya saja lebah kayu memiliki bulu. Di sisi lain, lebah kayu ini juga memiliki kesukaan yang sama dengan kumbang pengebor, yakni melubangi kayu.

Lebah kayu

Secara umum, lebah kayu memang menyukai kayu yang memiliki ketebalan tidak terlalu tebal. Hal ini memungkinkan lebah kayu bisa membuat lubang sampai pada bagian dalam. Hal yang paling penting dan perlu Anda ketahui adalah lebah kayu biasanya mengincar rangka atap yang terbuat dari kayu. Oleh karena itu Anda perlu berhati-hati dan memberikan penanganan terbaik.

3. Semut Kayu

Serangga pemakan kayu selain rayap yang terakhir adalah semut kayu. Pada dasarnya bentuk tubuh semut kayu hampir mirip dengan rayap. Keduanya juga sama memiliki sayap, meskipun seringkali semut kayu kehilangan sayapnya. Namun, secara umum, semut kayu dan rayap memang memiliki kesukaan memakan kayu.

Semut Kayu

Meskipun  memiliki bentuk tubuh yang mirip dengan rayap, dalam hal memakan kayu semut kayu lebih mirip dengan kumbang pengebor dan lebah kayu. Semut kayu biasanya membuat lubang di dalam kayu sebagai tempatnya bersarang. Hidupnya berkoloni, jadi semakin banyak semut kayu tentu perabot kayu memiliki potensi yang lebih besar kerusakannya.

Pada umumnya, koloni yang dibuat oleh semut kayu hampir sama dengan semut biasa. Oleh karena itu Anda perlu berhati-hati apabila melihat semut dengan ciri-ciri tersebut. Biasanya koloninya akan kehilangan sarang saat menjelang musim semi tiba. Nah, pada saat ini Anda perlu juga bersiap membuat penanganannya.

Kerugian Ekonomi Akibat Serangga Perusak Kayu

Setelah Anda mengenal 3 serangga perusak kayu selain rayap di atas, tentu banyak pertimbangan di pikiran Anda terkait kerugian yang ditimbulkan. Salah satu kerugian yang umum terjadi adalah dari segi ekonomi. Secara umum, tentu perabot kayu yang dirusak oleh serangga-serangga tersebut tidak bisa difungsikan seperti sebelumnya.

Adanya fungsi yang menurun sebelum habis waktu fungsi perabot, tentu akan menambah pengeluaran di luar dugaan. Padahal secara umum, keberadaan serangga-serangga ini akan terus ada mengingat cuaca dan musim di Indonesia memang mendukung keberadaannya.

Cara Mencegah Serangga Perusak Kayu

Sebagai pengguna perabot kayu, tentu menjaganya tetap aman adalah hal yang sangat penting. Selain dari segi ekonomis, keamanan penghuni rumah juga tidak kalah penting. Meskipun demikian, alangkah baik jika sebelum Anda membasmi serangga pemakan kayu, Anda melakukan pencegahan terhadap bahan kayu yang akan digunakan.

Baca Juga: Cara Membuat Kayu Tahan Rayap

1. Gunakan Bahan Pengawet atau Pelapis Kayu

Pada umumnya serangga pemakan kayu jenis di atas lebih suka merusak kayu yang merupakan struktur pembangun rumah. Hal ini memungkinkan akibat yang ditimbulkan lebih mengkhawatirkan. Nah, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan perawatan kayu sebelum digunakan.

Cara perawatan kayu sebelum digunakan biasanya dilakukan setelah kayu ditebang dengan merendamnya. Di sisi lain, perawatan juga bisa dilakukan dengan cara memberikan bahan pelapis pada kayu yang akan digunakan. Hal ini memungkinkan struktur kayu lebih kuat atau tidak disukai oleh serangga-serangga tersebut.

2. Menjaga Kondisi Kayu Tetap Kering

Pada umumnya, serangga perusak kayu menyukai struktur kayu yang lebih lunak. Struktur kayu seperti itu bisa diperoleh apabila kayu basah. Oleh karena itu, untuk menghindari serangga pemakan kayu, usahakan perabot berbahan kayu di rumah Anda tetap dalam keadaan kering sehingga aman dari serangga. 

Kesimpulannya, serangga perusak kayu memang banyak menimbulkan kerugian bagi manusia. Sebagai solusi pencegahan, maka Anda perlu melakukan perawatan sebelum kayu digunakan untuk perabot di rumah. Mengenal 3 jenis serangga perusak kayu selain rayap memang menjadi bagian yang penting untuk melakukan antisipasi.

Sumber: 4 Serangga Perusak Kayu di Indonesia