Alamat:
Jl. Kebo Iwa II Gg. Batu Sunia, Padangsambian Kaja, Kota Denpasar
Jam Kerja
Senin-Jumat: 8AM - 5PM
Sabtu-Minggu: 8AM - 3PM

Tidak semua ular hijau di Bali berbahaya. Beberapa jenis seperti ular pucuk dan ular bajing umumnya tidak mematikan bagi manusia, tetapi lipi gadang atau Trimeresurus insularis termasuk ular berbisa yang perlu diwaspadai. Artikel ini membahas ciri-ciri ular hijau di Bali, jenis ular berbisa lain yang mungkin dijumpai, serta langkah aman jika menemukan ular atau mengalami gigitan.
Ular hijau sering membuat panik karena warnanya mencolok dan mudah diasosiasikan dengan ular berbisa. Di Bali, masyarakat juga mengenal beberapa nama lokal seperti lipi gadang, ular hijau ekor merah, ular pucuk, dan ular bajing. Masalahnya, nama lokal kadang dipakai berbeda di tiap daerah. Satu nama bisa merujuk pada jenis ular yang berbeda.

Karena itu, mengenali jenis ular hijau di Bali penting agar kita tidak salah menilai risiko. Tidak semua ular hijau berbahaya bagi manusia. Ada yang berbisa kuat, ada yang berbisa ringan, dan ada juga yang tidak dianggap berbahaya. Namun, prinsip paling aman tetap sama: jangan menangkap, jangan memegang, dan jangan membunuh ular jika tidak terpaksa.
Ular sebenarnya bukan hama dalam arti biologis. Mereka bagian dari ekosistem dan membantu mengendalikan tikus, katak, burung kecil, kadal, serta hewan lain. Ular baru menjadi masalah ketika masuk ke rumah, villa, kebun, gudang, kandang, restoran, atau area yang dekat dengan aktivitas manusia.
Bali memiliki banyak area hijau, sawah, kebun, tebing, semak, pepohonan, taman villa, sungai kecil, dan area lembap. Lingkungan seperti ini cocok untuk ular karena menyediakan tiga hal: makanan, tempat berlindung, dan jalur pergerakan.
Ular hijau sering ditemukan di:
Beberapa ular hijau hidup arboreal, artinya banyak beraktivitas di pohon atau semak. Karena tubuhnya hijau, ular ini mudah berkamuflase di antara daun. Inilah alasan ular kadang baru terlihat ketika posisinya sudah sangat dekat dengan manusia.
Jenis ular hijau yang paling perlu diwaspadai di Bali adalah lipi gadang. Sebagian orang juga menyebutnya ular hijau ekor merah karena bagian ujung ekornya dapat tampak kemerahan, kecokelatan, atau berbeda warna dari tubuhnya.
Secara ilmiah, ular ini sering dirujuk sebagai Trimeresurus insularis, dikenal juga sebagai Island Pit Viper. Ular ini termasuk kelompok viper berbisa. Jadi, dalam artikel ini, lipi gadang dan ular hijau ekor merah dibahas sebagai satu kelompok ular hijau berbisa yang perlu diwaspadai, bukan sebagai dua jenis yang benar-benar terpisah.
Ciri yang sering terlihat:
Lipi gadang termasuk ular berbisa karena memiliki bisa yang digunakan untuk melumpuhkan mangsa. Pada manusia, gigitan ular ini dapat menyebabkan nyeri hebat, bengkak, memar, perdarahan lokal, dan kerusakan jaringan. Dalam beberapa kasus, korban membutuhkan penanganan medis segera.
Sumber Bali.com menyebut Trimeresurus insularis sebagai Island Pit Viper yang dikenal lokal sebagai ular hijau atau lipi gadang, berbisa, sering dijumpai di Bali, dan memiliki kemampuan mendeteksi panas tubuh mangsa melalui pit organ.
Untuk pembaca umum, tidak perlu memaksa identifikasi sampai tingkat spesies. Jika menemukan ular hijau bertubuh agak gemuk, kepala segitiga, dan diam melingkar di ranting atau semak, perlakukan sebagai ular berbisa. Jaga jarak dan jangan mencoba menangkapnya.
Ular pucuk biasanya merujuk pada Ahaetulla prasina, dikenal juga sebagai oriental whip snake atau Asian vine snake. Ular ini sangat ramping, berwarna hijau, memiliki kepala memanjang, dan sering berada di tanaman, semak, atau pohon.
Ciri ular pucuk:
Ular pucuk memiliki bisa ringan dan termasuk ular bertaring belakang. Pada manusia, gigitannya umumnya tidak mematikan, tetapi tetap dapat menimbulkan nyeri, bengkak lokal, atau reaksi tertentu.
Karena bentuknya ramping dan warnanya hijau, ular pucuk sering membuat orang mengira semua ular hijau pasti berbahaya. Padahal risiko ular pucuk tidak sama dengan lipi gadang. Meski begitu, ular ini tetap tidak boleh dipegang sembarangan.
Ular bajing sering merujuk pada Gonyosoma oxycephalum, dikenal juga sebagai red-tailed green ratsnake. Ular ini berwarna hijau, tubuhnya cukup panjang, aktif di pepohonan, dan biasanya memangsa burung, telur, kadal, atau mamalia kecil.
Ciri ular bajing:
Ular bajing umumnya tidak dianggap berbahaya bagi manusia. Namun, ular ini tetap bisa menggigit jika dipegang atau dipojokkan. Gigitan ular non-berbisa pun tetap berisiko infeksi jika luka tidak dibersihkan dan diperiksa.
Agar lebih mudah dipahami, berikut gambaran sederhananya.
Lipi gadang / ular hijau ekor merah adalah ular hijau yang paling perlu diwaspadai. Tubuhnya cenderung lebih gemuk, kepalanya segitiga, sering diam melingkar di ranting, dan termasuk ular berbisa.

Ular pucuk memiliki tubuh sangat ramping, kepala memanjang, dan sering terlihat seperti ranting atau daun. Ular ini berbisa ringan, tetapi umumnya tidak mematikan bagi manusia.

Ular bajing biasanya lebih panjang, aktif di pohon, dan tidak termasuk ular berbisa berbahaya bagi manusia. Meski demikian, ular ini tetap dapat menggigit jika merasa terancam.

Jadi, kesalahan umum adalah menganggap semua ular hijau sama. Padahal, ular hijau di Bali bisa berasal dari kelompok yang berbeda dengan tingkat risiko yang berbeda pula.
Tidak ada satu ciri visual yang 100% aman untuk semua kasus. Namun, beberapa petunjuk berikut dapat membantu menilai risiko secara umum.
Ular hijau yang perlu lebih diwaspadai biasanya memiliki:
Ular hijau yang relatif lebih tidak berbahaya biasanya:
Namun, aturan paling aman tetap: jangan mendekat untuk memastikan. Banyak kasus gigitan terjadi karena orang mencoba menangkap, memindahkan, atau membunuh ular.
Selain ular hijau, beberapa ular berbisa lain juga perlu diwaspadai di Bali dan wilayah sekitarnya.
Kobra Jawa memiliki nama ilmiah Naja sputatrix. Ular ini termasuk ular berbisa tinggi dan dikenal sebagai kobra penyembur. Selain menggigit, kobra ini dapat menyemburkan bisa ke arah mata ketika merasa terancam.
Risikonya:

Kelompok krait seperti Bungarus candidus perlu sangat diwaspadai. Ular ini biasanya aktif pada malam hari, berbisa kuat, dan gigitannya kadang tidak terlalu nyeri pada awalnya. Justru ini yang membuatnya berbahaya, karena korban bisa terlambat mencari pertolongan.
Risikonya:

Di wilayah pantai, laut, muara, atau area nelayan, ular laut juga mungkin dijumpai. Beberapa ular laut memiliki bisa kuat, meski umumnya tidak agresif jika tidak diganggu.
Risikonya meningkat jika ular terinjak, tersangkut jaring, atau dipegang.

Kelompok viper seperti Trimeresurus dikenal menyebabkan gejala lokal yang kuat, seperti bengkak, nyeri, memar, gangguan pembekuan darah, atau kerusakan jaringan. Karena bentuk dan warnanya bisa bervariasi, semua ular hijau yang tampak seperti viper sebaiknya diperlakukan sebagai berbisa.
Jika menemukan ular di rumah, villa, gudang, taman, atau area kerja, jangan panik dan jangan mencoba menangkap sendiri.
Lakukan langkah berikut:
Ular masuk ke area manusia biasanya karena mencari mangsa atau tempat berlindung. Jika rumah banyak tikus, cicak, katak, tumpukan barang, semak lebat, atau celah terbuka, risiko ular datang akan lebih tinggi.
Pencegahan ular harus dimulai dari pengelolaan lingkungan.
Langkah yang disarankan:
Untuk villa, restoran, gudang, dan area komersial, pengendalian tikus juga penting. Banyak ular masuk bukan karena menyerang manusia, tetapi karena mengikuti sumber makanan.
Gigitan ular harus dianggap serius, terutama jika jenis ular tidak diketahui. Jangan menunggu sampai gejala berat muncul. Penanganan yang cepat dan benar dapat mengurangi risiko komplikasi.
Lakukan ini:
Untuk masyarakat awam, langkah paling aman adalah membatasi gerak, tidak melakukan tindakan ekstrem, dan segera mencari pertolongan medis.
Hindari tindakan berikut:
Penggunaan tourniquet ketat dapat memperburuk kerusakan jaringan dan tidak dianjurkan dalam penanganan modern gigitan ular.
Tidak semua gigitan ular membutuhkan antivenom. Dokter akan menilai jenis ular, gejala lokal, gejala sistemik, hasil pemeriksaan darah, dan perkembangan kondisi pasien.
Namun, keputusan ini harus dibuat oleh tenaga medis. Jangan menolak pemeriksaan hanya karena luka terlihat kecil. Beberapa gigitan ular berbisa bisa tampak ringan pada awalnya, lalu memburuk beberapa jam kemudian.
Jenis ular hijau di Bali tidak semuanya berbahaya. Lipi gadang atau ular hijau ekor merah adalah jenis yang paling perlu diwaspadai karena termasuk ular berbisa dari kelompok viper, terutama Trimeresurus insularis. Sementara itu, ular pucuk dan ular bajing umumnya tidak mematikan bagi manusia, tetapi tetap tidak boleh dipegang sembarangan.
Selain ular hijau, Bali juga memiliki risiko ular berbisa lain seperti kobra Jawa, krait, ular laut, dan beberapa kelompok viper. Jika menemukan ular, jangan menangkap sendiri. Jaga jarak, amankan penghuni rumah, dan hubungi pihak yang berpengalaman.
Jika terjadi gigitan, tenangkan korban, batasi gerakan, lepaskan benda ketat, jangan menyayat atau mengikat keras luka, dan segera cari pertolongan medis. Untuk area rumah, villa, gudang, atau bisnis yang sering dimasuki ular, lakukan perbaikan lingkungan dan pengendalian tikus agar sumber makanan ular berkurang.sering dimasuki ular, lakukan perbaikan lingkungan dan pengendalian tikus agar sumber makanan ular berkurang.
Dipublikasikan pada: 10 Januari 2023
Terakhir diperbarui pada: 28 Mei 2026