Lipi gadang atau ular hijau berbisa di Bali melingkar di ranting pohon

Jenis Ular Hijau di Bali: Mana yang Berbisa dan Bagaimana Penanganannya?

Tidak semua ular hijau di Bali berbahaya. Beberapa jenis seperti ular pucuk dan ular bajing umumnya tidak mematikan bagi manusia, tetapi lipi gadang atau Trimeresurus insularis termasuk ular berbisa yang perlu diwaspadai. Artikel ini membahas ciri-ciri ular hijau di Bali, jenis ular berbisa lain yang mungkin dijumpai, serta langkah aman jika menemukan ular atau mengalami gigitan.

Ular hijau sering membuat panik karena warnanya mencolok dan mudah diasosiasikan dengan ular berbisa. Di Bali, masyarakat juga mengenal beberapa nama lokal seperti lipi gadang, ular hijau ekor merah, ular pucuk, dan ular bajing. Masalahnya, nama lokal kadang dipakai berbeda di tiap daerah. Satu nama bisa merujuk pada jenis ular yang berbeda.

Lipi gadang atau ular hijau berbisa di Bali melingkar di ranting pohon

Karena itu, mengenali jenis ular hijau di Bali penting agar kita tidak salah menilai risiko. Tidak semua ular hijau berbahaya bagi manusia. Ada yang berbisa kuat, ada yang berbisa ringan, dan ada juga yang tidak dianggap berbahaya. Namun, prinsip paling aman tetap sama: jangan menangkap, jangan memegang, dan jangan membunuh ular jika tidak terpaksa.

Ular sebenarnya bukan hama dalam arti biologis. Mereka bagian dari ekosistem dan membantu mengendalikan tikus, katak, burung kecil, kadal, serta hewan lain. Ular baru menjadi masalah ketika masuk ke rumah, villa, kebun, gudang, kandang, restoran, atau area yang dekat dengan aktivitas manusia.

Mengapa Ular Hijau Sering Ditemukan di Bali?

Bali memiliki banyak area hijau, sawah, kebun, tebing, semak, pepohonan, taman villa, sungai kecil, dan area lembap. Lingkungan seperti ini cocok untuk ular karena menyediakan tiga hal: makanan, tempat berlindung, dan jalur pergerakan.

Ular hijau sering ditemukan di:

  • pohon,
  • semak,
  • kebun,
  • taman rumah,
  • area sawah,
  • dekat sungai,
  • atap atau plafon,
  • gudang,
  • kandang,
  • area villa yang banyak vegetasi,
  • tumpukan kayu atau batu.

Beberapa ular hijau hidup arboreal, artinya banyak beraktivitas di pohon atau semak. Karena tubuhnya hijau, ular ini mudah berkamuflase di antara daun. Inilah alasan ular kadang baru terlihat ketika posisinya sudah sangat dekat dengan manusia.

1. Lipi Gadang atau Ular Hijau Ekor Merah

Jenis ular hijau yang paling perlu diwaspadai di Bali adalah lipi gadang. Sebagian orang juga menyebutnya ular hijau ekor merah karena bagian ujung ekornya dapat tampak kemerahan, kecokelatan, atau berbeda warna dari tubuhnya.

Secara ilmiah, ular ini sering dirujuk sebagai Trimeresurus insularis, dikenal juga sebagai Island Pit Viper. Ular ini termasuk kelompok viper berbisa. Jadi, dalam artikel ini, lipi gadang dan ular hijau ekor merah dibahas sebagai satu kelompok ular hijau berbisa yang perlu diwaspadai, bukan sebagai dua jenis yang benar-benar terpisah.

Ciri yang sering terlihat:

  • warna tubuh hijau terang,
  • kepala berbentuk segitiga,
  • tubuh relatif lebih gemuk dibanding ular pucuk,
  • mata bisa tampak kemerahan atau oranye pada beberapa individu,
  • ujung ekor dapat tampak kemerahan atau kecokelatan,
  • sering melingkar diam di ranting, semak, atau tanaman,
  • lebih aktif pada malam hari,
  • dapat menggigit jika merasa terancam.

Lipi gadang termasuk ular berbisa karena memiliki bisa yang digunakan untuk melumpuhkan mangsa. Pada manusia, gigitan ular ini dapat menyebabkan nyeri hebat, bengkak, memar, perdarahan lokal, dan kerusakan jaringan. Dalam beberapa kasus, korban membutuhkan penanganan medis segera.

Sumber Bali.com menyebut Trimeresurus insularis sebagai Island Pit Viper yang dikenal lokal sebagai ular hijau atau lipi gadang, berbisa, sering dijumpai di Bali, dan memiliki kemampuan mendeteksi panas tubuh mangsa melalui pit organ.

Untuk pembaca umum, tidak perlu memaksa identifikasi sampai tingkat spesies. Jika menemukan ular hijau bertubuh agak gemuk, kepala segitiga, dan diam melingkar di ranting atau semak, perlakukan sebagai ular berbisa. Jaga jarak dan jangan mencoba menangkapnya.

2. Ular Pucuk

Ular pucuk biasanya merujuk pada Ahaetulla prasina, dikenal juga sebagai oriental whip snake atau Asian vine snake. Ular ini sangat ramping, berwarna hijau, memiliki kepala memanjang, dan sering berada di tanaman, semak, atau pohon.

Ciri ular pucuk:

  • tubuh sangat ramping,
  • kepala panjang dan runcing,
  • mata relatif besar,
  • warna hijau menyerupai daun,
  • gerakan lebih ringan dan cepat,
  • sering berada di ranting, pagar tanaman, atau semak,
  • memangsa kadal, cicak, katak, atau hewan kecil.

Ular pucuk memiliki bisa ringan dan termasuk ular bertaring belakang. Pada manusia, gigitannya umumnya tidak mematikan, tetapi tetap dapat menimbulkan nyeri, bengkak lokal, atau reaksi tertentu.

Karena bentuknya ramping dan warnanya hijau, ular pucuk sering membuat orang mengira semua ular hijau pasti berbahaya. Padahal risiko ular pucuk tidak sama dengan lipi gadang. Meski begitu, ular ini tetap tidak boleh dipegang sembarangan.

3. Ular Bajing

Ular bajing sering merujuk pada Gonyosoma oxycephalum, dikenal juga sebagai red-tailed green ratsnake. Ular ini berwarna hijau, tubuhnya cukup panjang, aktif di pepohonan, dan biasanya memangsa burung, telur, kadal, atau mamalia kecil.

Ciri ular bajing:

  • tubuh panjang dan ramping,
  • warna hijau cerah,
  • kepala tidak segitiga seperti viper,
  • mata besar,
  • ekor bisa kemerahan atau kecokelatan,
  • sering berada di pohon,
  • dapat bergerak cepat.

Ular bajing umumnya tidak dianggap berbahaya bagi manusia. Namun, ular ini tetap bisa menggigit jika dipegang atau dipojokkan. Gigitan ular non-berbisa pun tetap berisiko infeksi jika luka tidak dibersihkan dan diperiksa.

Perbedaan Lipi Gadang, Ular Pucuk, dan Ular Bajing

Agar lebih mudah dipahami, berikut gambaran sederhananya.

Lipi gadang / ular hijau ekor merah adalah ular hijau yang paling perlu diwaspadai. Tubuhnya cenderung lebih gemuk, kepalanya segitiga, sering diam melingkar di ranting, dan termasuk ular berbisa.

Lipi gadang atau ular hijau berbisa di Bali melingkar di ranting pohon
Lipi gadang ular hijau berbisa di Bali

Ular pucuk memiliki tubuh sangat ramping, kepala memanjang, dan sering terlihat seperti ranting atau daun. Ular ini berbisa ringan, tetapi umumnya tidak mematikan bagi manusia.

Ular pucuk hijau bertubuh ramping di atas ranting
Ular pucuk hijau

Ular bajing biasanya lebih panjang, aktif di pohon, dan tidak termasuk ular berbisa berbahaya bagi manusia. Meski demikian, ular ini tetap dapat menggigit jika merasa terancam.

Ular bajing hijau di ranting pohon
Ular bajing hijau

Jadi, kesalahan umum adalah menganggap semua ular hijau sama. Padahal, ular hijau di Bali bisa berasal dari kelompok yang berbeda dengan tingkat risiko yang berbeda pula.

Cara Membedakan Ular Hijau Berbisa dan Tidak Berbisa

Tidak ada satu ciri visual yang 100% aman untuk semua kasus. Namun, beberapa petunjuk berikut dapat membantu menilai risiko secara umum.

Ular hijau yang perlu lebih diwaspadai biasanya memiliki:

  • kepala tampak segitiga,
  • tubuh lebih pendek dan gemuk,
  • posisi melingkar diam di ranting,
  • mata mencolok,
  • aktif malam hari,
  • berada di semak rendah dekat jalur manusia,
  • tidak segera kabur saat didekati.

Ular hijau yang relatif lebih tidak berbahaya biasanya:

  • tubuh sangat ramping,
  • kepala memanjang,
  • gerakan cepat,
  • sering menjalar di pepohonan,
  • tidak memiliki kepala segitiga jelas.

Namun, aturan paling aman tetap: jangan mendekat untuk memastikan. Banyak kasus gigitan terjadi karena orang mencoba menangkap, memindahkan, atau membunuh ular.

Ular Berbisa Lain yang Perlu Diwaspadai di Bali

Selain ular hijau, beberapa ular berbisa lain juga perlu diwaspadai di Bali dan wilayah sekitarnya.

1. Kobra Jawa

Kobra Jawa memiliki nama ilmiah Naja sputatrix. Ular ini termasuk ular berbisa tinggi dan dikenal sebagai kobra penyembur. Selain menggigit, kobra ini dapat menyemburkan bisa ke arah mata ketika merasa terancam.

Risikonya:

  • bisa neurotoksik,
  • dapat menyebabkan pembengkakan dan nekrosis,
  • semburan bisa ke mata dapat menyebabkan iritasi berat,
  • gigitan memerlukan penanganan medis segera.
Naja sputatrix

2. Ular Welang atau Weling

Kelompok krait seperti Bungarus candidus perlu sangat diwaspadai. Ular ini biasanya aktif pada malam hari, berbisa kuat, dan gigitannya kadang tidak terlalu nyeri pada awalnya. Justru ini yang membuatnya berbahaya, karena korban bisa terlambat mencari pertolongan.

Risikonya:

  • gangguan saraf,
  • kelopak mata turun,
  • sulit menelan,
  • lemas,
  • gangguan napas,
  • dapat fatal jika terlambat ditangani.
Bungarus candidus

3. Ular Laut

Di wilayah pantai, laut, muara, atau area nelayan, ular laut juga mungkin dijumpai. Beberapa ular laut memiliki bisa kuat, meski umumnya tidak agresif jika tidak diganggu.

Risikonya meningkat jika ular terinjak, tersangkut jaring, atau dipegang.

Ular laut di Tanah Lot

4. Viper Lain

Kelompok viper seperti Trimeresurus dikenal menyebabkan gejala lokal yang kuat, seperti bengkak, nyeri, memar, gangguan pembekuan darah, atau kerusakan jaringan. Karena bentuk dan warnanya bisa bervariasi, semua ular hijau yang tampak seperti viper sebaiknya diperlakukan sebagai berbisa.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Menemukan Ular di Rumah?

Jika menemukan ular di rumah, villa, gudang, taman, atau area kerja, jangan panik dan jangan mencoba menangkap sendiri.

Lakukan langkah berikut:

  1. Jaga jarak minimal beberapa meter.
  2. Jangan melempar, memukul, atau menyiram ular.
  3. Jauhkan anak-anak dan hewan peliharaan.
  4. Tutup akses ke area tersebut jika aman dilakukan.
  5. Amati dari jarak aman.
  6. Foto dari jauh hanya jika tidak membahayakan.
  7. Hubungi petugas, komunitas rescue reptil, pemadam, atau jasa yang memahami penanganan ular.
  8. Setelah ular dipindahkan, periksa sumber masuknya ular.

Ular masuk ke area manusia biasanya karena mencari mangsa atau tempat berlindung. Jika rumah banyak tikus, cicak, katak, tumpukan barang, semak lebat, atau celah terbuka, risiko ular datang akan lebih tinggi.

Cara Mencegah Ular Masuk Rumah atau Villa

Pencegahan ular harus dimulai dari pengelolaan lingkungan.

Langkah yang disarankan:

  • potong rumput tinggi,
  • rapikan semak dekat bangunan,
  • bersihkan tumpukan kayu, batu, dan sampah,
  • tutup celah bawah pintu,
  • pasang kawat kasa pada saluran tertentu,
  • kurangi tikus sebagai sumber makanan ular,
  • simpan pakan hewan dengan tertutup,
  • bersihkan gudang,
  • jangan biarkan kardus menumpuk,
  • perbaiki lubang dinding atau plafon,
  • gunakan penerangan cukup di area luar,
  • cek area taman sebelum berjalan malam hari.

Untuk villa, restoran, gudang, dan area komersial, pengendalian tikus juga penting. Banyak ular masuk bukan karena menyerang manusia, tetapi karena mengikuti sumber makanan.

Penanganan Gigitan Ular: Apa yang Harus Dilakukan?

Gigitan ular harus dianggap serius, terutama jika jenis ular tidak diketahui. Jangan menunggu sampai gejala berat muncul. Penanganan yang cepat dan benar dapat mengurangi risiko komplikasi.

Lakukan ini:

  1. Jauhkan korban dari ular.
  2. Tenangkan korban agar tidak banyak bergerak.
  3. Hubungi bantuan medis atau segera ke fasilitas kesehatan.
  4. Imobilisasi bagian tubuh yang tergigit.
  5. Lepaskan cincin, gelang, jam, atau pakaian ketat di dekat area gigitan sebelum bengkak.
  6. Posisikan korban senyaman mungkin.
  7. Catat waktu gigitan.
  8. Foto ular dari jarak aman jika memungkinkan, tetapi jangan mengejar atau menangkap ular.
  9. Bawa korban ke rumah sakit secepat mungkin.

Untuk masyarakat awam, langkah paling aman adalah membatasi gerak, tidak melakukan tindakan ekstrem, dan segera mencari pertolongan medis.

Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Digigit Ular

Hindari tindakan berikut:

  • jangan mengikat sangat kencang dengan tourniquet,
  • jangan menyayat luka,
  • jangan mengisap bisa,
  • jangan membakar luka,
  • jangan memberi alkohol,
  • jangan memijat area gigitan,
  • jangan mengoles bahan kimia atau ramuan,
  • jangan menempelkan es langsung,
  • jangan mengejar ular,
  • jangan menunggu gejala berat baru ke rumah sakit.

Penggunaan tourniquet ketat dapat memperburuk kerusakan jaringan dan tidak dianjurkan dalam penanganan modern gigitan ular.

Apakah Semua Gigitan Ular Membutuhkan Antivenom?

Tidak semua gigitan ular membutuhkan antivenom. Dokter akan menilai jenis ular, gejala lokal, gejala sistemik, hasil pemeriksaan darah, dan perkembangan kondisi pasien.

Namun, keputusan ini harus dibuat oleh tenaga medis. Jangan menolak pemeriksaan hanya karena luka terlihat kecil. Beberapa gigitan ular berbisa bisa tampak ringan pada awalnya, lalu memburuk beberapa jam kemudian.

Kesimpulan

Jenis ular hijau di Bali tidak semuanya berbahaya. Lipi gadang atau ular hijau ekor merah adalah jenis yang paling perlu diwaspadai karena termasuk ular berbisa dari kelompok viper, terutama Trimeresurus insularis. Sementara itu, ular pucuk dan ular bajing umumnya tidak mematikan bagi manusia, tetapi tetap tidak boleh dipegang sembarangan.

Selain ular hijau, Bali juga memiliki risiko ular berbisa lain seperti kobra Jawa, krait, ular laut, dan beberapa kelompok viper. Jika menemukan ular, jangan menangkap sendiri. Jaga jarak, amankan penghuni rumah, dan hubungi pihak yang berpengalaman.

Jika terjadi gigitan, tenangkan korban, batasi gerakan, lepaskan benda ketat, jangan menyayat atau mengikat keras luka, dan segera cari pertolongan medis. Untuk area rumah, villa, gudang, atau bisnis yang sering dimasuki ular, lakukan perbaikan lingkungan dan pengendalian tikus agar sumber makanan ular berkurang.sering dimasuki ular, lakukan perbaikan lingkungan dan pengendalian tikus agar sumber makanan ular berkurang.


Referensi

  1. Gin, 2022, Ada Tiga Jenis Ular Hijau di Bali, Hanya Satu Jenis yang Berbahaya, diakses pada 27 Mei 2026.
  2. Bali.com, tanpa tahun, Island Pit Viper – Venomous Snake in Bali, diakses pada 27 Mei 2026.
  3. Bali.com, tanpa tahun, Green Tree Pit Viper in Bali, diakses pada 27 Mei 2026.
  4. Bali.com, tanpa tahun, Javan Spitting Cobra – Venomous Snake in Bali, diakses pada 27 Mei 2026.
  5. Universitas Gadjah Mada, 2024, Sleeping with Mosquito Net Effectively Prevents Venomous Snake Bites, diakses pada 27 Mei 2026.
  6. World Health Organization, 2025, First Aid for Snake Bites, diakses pada 27 Mei 2026.
  7. Anita, A. et al., 2025, Venomous Snake Distribution in Indonesia from Citizen Science Data, diakses pada 27 Mei 2026.
  8. Afridi, H. et al., 2025, Tourniquets in Snakebite: A Harmful Tradition Needing Urgent Reconsideration, diakses pada 27 Mei 2026.
  9. Nusa Medica, 2026, Bali Snake Anti Venom: What Travelers Should Know About Snake Bite Treatment, diakses pada 27 Mei 2026.
  10. Retayasa, I.K.S.D. et al., 2023, Characteristic Cases of Snake Bite in Sanjiwani Hospital, diakses pada 27 Mei 2026.

Dipublikasikan pada: 10 Januari 2023
Terakhir diperbarui pada: 28 Mei 2026